Sejarah Anjing Shih Tzu

china-shih-tzuAnjing Shih Tzy sering disebut sebagai anjing singa atau Lion Dogs. Dalam bahasa Cina Shih Tzus berarti “Singa”. Pada beratus-ratus tahun yang lalu, teradapat banyak anjing-anjing Asiatic yang di ternakan berparas serupa dengan singa kecil. “Anjing Singa” berukuran kecil dan berjenggot, memiliki kepala yang bulat, wajah yang datar, hidung yang pendek, mata yang bulat dan besar, bentuk tubuh yang persegi, dan kaki yang pendek.

Singa memiliki makna yang sangat penting dalam agama Budha. Mereka diangap sebagai binatang buas yang suci. Legenda juga mengatakan bahwa seekor singa menggikuti kemana pun sang Budha pergi.  Dalam makna yang sama, dikatakan bahwa “Anjing Singa” mengikuti jejak kaki sang Budha dan konon dipercayai “Anjing Singa” menlindungi jiwa dan roh para biksu Budha. Bulu Shih Tzu yang berwarana putih kontras dianggap sebagai ” Bintang Budha” dan corak berwarna gelap pada badan Shih Tzu secara melintang konon menyerupai pelana yang digunakan oleh Budha ketika menunggangi seekor singa.

Nenek moyang Shih Tzu berkembang biak di Amerika Utara, namun anjing  berkepala pendek dan lebar seperti Shih Tzu, Pug, dan Pekingnese, yang berasal dari Asia. Anjing telah menjadi bagian penting dalam kehidupan di Asia semenjak  ribuan tahun yang lalu. Orang-orang China pada jaman itu menjual sutra untuk di tukar dengan anjing. Ditambah, Dalai Lamas menobatkan gelar sebagai “Anjing Suci” dan “Si Anjing Singa” pada nenek moyang Shih Tzu sebagai martabat, pada saat Kerajaan China sebagai diplomat dan atribute pada masa Dinasty Ch’ing.

Walaupun Singa bukan merupakan binatang asli dari China, tetapi Singa dianggap sebagai binatang suci bagi Budha dan merupakan binatang buas yang penting. Kerajaan China mulai mengimpor singa lebih dari 2,000 tahun yang lalu dan “Anjing Singa” menjadi sangat terkenal sepanjang masa pimpinan Dinasti Manchu. Dikarenakan mereka sangat pendek, “Anjing Singa” sering disebut sebagai “anjing di bawah kolong meja, yang di ternak di China selama 3,000 tahun lamanya, mereka terdapat dalam literatur sampai akhir abad ke 10.

Di China, menternakan dan memelihara “Anjing Singa” merupakan tanggung jawab para kasim pada jaman kerajaan. Mereka saling berlomba untuk menghasilkan dan memelihara anjing yang paling menarik. Spesimen terbaik dilukis pada buku anjing kerajaan atau dilukis diatas permadani. Memiliki seekor binatang yang dilukiskan merupakan  suatu kehormatan dan kebanggaan bagi mereka. Kasim yang dapat menghasilkan anjing yang terbaik akan diberi hadiah dari Kaisar.

“Anjing Singa” dipercayai membawa berkah dan kemujuran. Sang anjing sering pula mengambil bagian dalam prosesi besar kerajaan dan mengikuti jejak langkah sang Kaisar dan Permaisuri, “Anjing Singa” diketahui juga menjaga kuil-kuil agama Budha, yang akan mengonggong setiap kali ada  penggangu yang datang. Dengan menjual anjing kerajaan ini, merupakan hal yang melanggar hukum, dan akan di hukum mati pada saat itu.

Sumber : dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *