Mendiagnosa Alergi Makanan Pada Anjing

Proses diagnosis alergi makanan sangat mudah. Namun, mengingat banyaknya masalah lain yang dapat menyebabkan gejala yang hampir serupa, maka sangat penting untuk memastikan bahwa semua kemungkinan penyakit lain telah diidentifikasi dan diobati sebelum menjalani diagnosis untuk alergi makanan.

  1. Lakukan uji coba makanan dengan memberi hewan makanan baru yang mengandung protein dan karbohidrat. Lakukan minimal selama 12 minggu.
  2. Pastikan bahan makanan yang mengandung protein dan karbohidrat tersebut tidak pernah dimakan hewan Anda sebelumnya, misalnya daging kelinci dan beras, atau daging rusa dan kentang. Ada banyak bahan makanan yang mengandung protein dan karbohidrat yang tersedia di pasar.
  3. Diet khusus dengan menggunakan protein dan karbohidrat yang dipecah menjadi ukuran molekul-molekul kecil, sehingga tidak lagi memicu reaksi alergi. Pola diet ini disebut ’antigen terbatas’ atau diet ’protein terhidrolisis’.
  4. Terlepas dari pola diet mana yang digunakan, pola diet harus dilakukan secara ketat dan bahan-bahan makanan tersebut harus menjadi satu-satunya makanan yang dimakan hewan peliharaan Anda selama 12 minggu. Sehingga tidak ada camilan, tidak ada obat dengan rasa khusus, tulang-tulangan atau apa pun juga, selain makanan khusus tadi dan air.
  5. Jangan biarkan anjing berkeliaran untuk membatasi aksesnya terhadap makanan tambahan atau keranjang sampah.
  6. Setelah gejala berkurang, coba berikan kembali makanan seperti sedia kala. Ini disebut ’tes provokatif’, dan sangat penting untuk mengkonfirmasi diagnosis.
  7. Jika gejala kembali terlihat, maka diagnosis alergi makanan dikonfirmasi. Namun, jika tidak ada perubahan gejala, tetapi alergi makanan masih menjadi faktor risiko utama, maka percobaan lain dengan menggunakan sumber makanan yang berbeda dapat dijalankan.

Sumber : dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *