Anjing Gagal Divaksinasi

Kegagalan vaksinasi adalah ketika vaksinasi yang seharusnya membentuk pertahanan tubuh malah membentuk penyakit yang menyerang vaksinasi itu sendiri. Pada kebanyakan kasus, bukan vaksinasi yang gagal, tetapi respon imunisasi yang tidak mencukupi untuk menanggulangi penyakit yang masuk ke dalam tubuh hewan.

Berikut beberapa penyebab kegagalan vaksinasi yang dapat terjadi pada hewan peliharaan seperti anjing:

  1. Antibodi Induk atau Maternal Antibody. Anak anjing yang baru lahir, mendapat vaksin alami dari induknya melalui transfer antibody yang disalurkan melalui plasenta induk dan kolostrum ASI. Usia dimana anak anjing secara efektif dapat diimunisasi adalah sebanding dengan jumlah perlindungan antibodi anakan yang diterima dari induk mereka. Tingginya tingkat antibodi induk dalam aliran darah anak anjing akan memblokir efektivitas vaksin.
  2. Waktu kerentanan. Antibodi dari induk biasanya beredar di dalam darah anakan yang baru lahir selama beberapa minggu. Ada waktu dimana dari beberapa hari hingga beberapa minggu, antibodi induk terlalu rendah untuk melindungi anakan dari penyakit, tetapi terlalu tinggi untuk vaksin bekerja. Periode ini di sebut sebagai waktu kerentanan. Ini adalah saat meskipun divaksinasi, anak anjing masih bisa terkena penyakit.
  3. Rentang waktu antara vaksinasi dan infeksi penyakit. Vaksin tidak langsung menyediakan perlindungan. Dibutuhkan beberapa hari hingga mingguan agar tubuh anjing dapat merespon vaksin yang telah diberikan. Hewan muda rentan terhadap penyakit apabila terinfeksi penyakit sebelum vaksin berhasil menstimulasi sistem imun tubuhnya.
  4. Perbedaan Jenis Bakteri atau Virus. Vaksin hanya mengandung beberapa bakteri dan virus jenis tertentu yang dapat mengakibatkan penyakit. Vaksinasi dihasilkan melalui satu jenis virus/bakteri yang tidak dapat melindungi tubuh dari jenis-jenis lain. Sebagai contoh, beberapa vaksin leptospirosis hanya melindungi tubuh dari dua jenis bakteri Leptospirosis saja, sedangkan yang lain melindungi tubuh dari empat jenis bakteri.
  5. Kerusakan Vaksin. Jika tidak dijaga dengan baik, hal ini dapat menyebabkan vaksin hidup yang telah di modifikasi menjadi tidak aktif. Hal ini sangat jarang terjadi, tetapi dapat saja terjadi apabila vaksin tepapar sinar ultraviolet, terdapat rentang waktu yang lama ketika vaksin di bentuk, diberikan/digunakan dan tidak disimpan di dalam temperatur yang dianjurkan.
  6. Administrasi yang tidak benar. Vaksin dibuat untuk diberikan dalam jalur yang berbeda, baik secara Intranasal (ke dalam lubang hidung), Subkutan (di bawah kulit) atau Intramuskular (di dalam otot). Jika vaksin diberikan dengan cara yang berbeda dengan yang dianjurkan, maka vaksin tidak akan efektif dan bisa membahayakan.
  7. Ketidakpatuhan jadwal vaksinasi. Pemberian beberapa jenis vaksin sebaiknya dilakukan sekaligus. Oleh karena itu sebaiknya menggunakan vaksin yang berisi beberapa jenis vaksin dalam satu kemasan.
  8. Lama Interval antara Vaksinasi. Untuk memberikan pertahanan tubuh yang baik sebaiknya vaksinasi dilakukan pengulangan. Vaksinasi yang sama sebaiknya diulang kembali setelah 2-4 minggu dari vaksin pertama. Vaksin pertama untuk membentuk sistem imun utama dan vaksinasi berikutnya untuk meningkatkan sistem imun. Jika lewat dari waktu diatas maka sistem imun yang dibentuk pertama kali tidak menjadi dasar dan kurangnya sistem imun dapat muncul pada saat vaksinasi berikutnya.
  9. Genetik. Beberapa jenis anjing dapat lebih rentan terhadap beberapa jenis penyakit tertentu. Sebagai contoh anjing jenis Dobermann dan Rottweiler, lebih rentan terhadap canine parvovirus dan membutuhkan jadwal vaksinasi yang berbeda dibandingkan dengan anjing jenis lainnya, jika mereka ingin dilindungi oleh vaksinasi.
  10. Kekebalan. Untuk menyediakan perlindungan dari vaksinasi, sistem imun hewan harus terstimulasi oleh vaksin. Jika sistem imun tidak berfungsi dengan cukup atau tertekan, seperti hewan dengan infeksi virus tertentu, dan menerima perawatan kanker tertentu atau dosis steroid yang sangat tinggi, vaksin tidak akan memulai respon imun yang tepat, dan tidak akan menghasilkan perlindungan dari penyakit.
  11. Proses Penyakit. Demam dapat menyebabkan hambatan dalam proses sistem imun pada anakan anjing. Beberapa jenis infeksi virus juga dapat menyebabkan penurunan sistem imun untuk merespon dengan baik vaksin yang diberikan. Bahkan, stress karena pemindahan tempat dapat mengurangi respon anjing terhadap vaksinasi.
  12. Kekurangan Gizi. Hewan yang malnutrisi, seperti yang sedang sakit, tidak dapat merespon vaksinasi dengan baik. Kekurangan gizi, seperti Vitamin A, Vitamin E, dan kekurangan selenium, dan pembatasan protein atau kalori dapat mengakibatkan penekanan pada sistem imun.

Sumber : dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *